Tentang Kejujuran

“Nak, udah sholat?” tanyaku untuk ke sekian kali pada si sulung.

“Belum mak.” jawabnya sambil agak merengek.

“Cepat sholat nak, waktunya hampir habis. Langsung wudhu sana, mama siapin sajadahnya.”

Baru beberapa detik aku mengambil sajadah, dia sudah ada di sampingku dengan muka dan rambut yg basah.

“Bang, cara wudhunya gimana? Kok cepat banget?” tanyaku heran.

“Ya gitu lah.. Udah wudhu kok abang..” jawabnya kembali agak merengek.

Aku setengah percaya sebenarnya. Tapi aku simpan perasaan itu. Beberapa kali rasa curiga datang karena ada hal-hal ganjil menurutku, namun lagi-lagi aku percaya anakku jujur, karena memang aku tidak pernah mengajarinya berbohong.

“Oo.. Ya udah. Langsung sholat ya.” aku kembali menyuruhnya.

Aku beranjak dari sajadah, pindah ke kamar untuk membereskan yang lain. Pintu kututup. Namun aku teringat harus mengambil sesuatu di luar.

“Loh,, kok sajadahnya ditutup? Udah selesai sholatnya nak?” tanyaku dengan bertambah curiga karena melihatnya mau melipat sajadah.

Aku yakin sekali tidak mungkin dia sudah selesai melaksanakan sholat hanya dalam hitungan detik.

“Udah mak”, sambil coba menatap mataku dan nyengir sok manis.

Ya Rabb. Anakku berbohong. Aku paham arti tatapan itu. Dadaku berdesir, nafasku sedikit sesak. Apa yang harus aku lakukan ya Rabb? Menghukumnya? Memarahinya?, monolog terjadi dalam diriku.

Aku menarik nafas panjang, otakku berputar mengingat semua ilmu parenting yang aku baca dulu.

“Jujur nak… Mama cuma minta abang jujur.”, kataku untuk menekankan kalau aku tau dia berbohong. Kutatap matanya agar hati kami bisa berbicara.

Aku mencoba meredam emosi yang ada dalam hatiku. Karena berbicara dalam keadaan emosi malah dapat memperkeruh suasana. Apalagi yang aku hadapi adalah anak-anak yang masih belum mengerti arti penting kejujuran.

“Mama nggak percaya sama abang?”, ucapnya tanpa berani menatap mataku lagi dan merengek agak keras.
“Mama tau kapan mama bisa percaya dan kapan nggak percaya.”, jawabku agak tegas.
Dia langsung menangis keras. Ingin mencari alasan namun tidak ada lagi yang dapat dikatakannya.
Aku hanya ingin dia belajar untuk dapat mengakui kesalahan, meminta maaf, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.
Namun ternyata itu tidak semudah yang aku bayangkan. Kupikir, anak kecil dapat dengan gampangnya dicekoki kebaikan-kebaikan, minimal dari orangtuanya dan langsung dapat menerapkannya. Ternyata aku salah.

“Abang sekarang masuk ke kamar, pikirkan kesalahan abang apa.”, suruhku sambil meninggalkan dia yang menangis semakin keras.
Dia mengikuti perintahku sambil menendang dan memukul dinding dan lemari. Begitu memang caranya selama ini melampiaskan emosinya ketika marah. Sesuatu yang masih kupikirkan cara untuk merubahnya.
Kututup pintu kamar dan kubiarkan dia sendiri menangis di dalamnya.
Sepuluh menit berlalu dengan teriakan dan tangisnya, memanggilku untuk segera menghampirinya.
Aku datang dan kuajak dia berbicara tanpa tangisan dan teriakan.
“Abang udah tau kesalahan abang apa?” tanyaku tegas.
“Abang bohong, abang gak jujur ke mama”, jawabnya berat seolah sulit sekali untuk mengeluarkan kalimat itu.
“Bohong apa aja ke mama?”, tanyaku lagi.

“Abang nggak wudhu,,,, abang nggak sholat…”, jawabnya sambil menahan tangis dan teriakannya.
Sebagai mama yang menaruh besar harapan ke anak, perasaanku serasa hancur dengan pengakuannya. Namun aku coba pahami kondisi ini sebagai proses belajarnya untuk mengerti arti kejujuran. Bukan hanya sebatas judul yang dia pelajari di buku pelajaran PKN semata.
“Udah berapa kali abang bohong ke mama?” lanjutku bertanya.
“Udah beberapa kali ma..” jawabnya masih dengan rengekan.
“Abang udah tau itu salah. Jadi besok-besok masih mau kayak gitu lagi?” tanyaku melanjutkan.

“Nggak ma, abang janji gak bohong lagi.” jawabnya dengan tangis mulai mereda.
Kupeluk dia, kuberi dia minum dan kuusap-usap kepalanya.
“Abang anak sholeh yang selalu jujur. Sesuai ama harapan kami di nama abang, Shiddiq.”
“Tau nggak kenapa mama pengen abang jadi anak sholeh? Tau nggak kenapa mama pengen abang hafal Al Qur’an?” tanyaku sambil menenangkannya.
Lagi-lagi kuulang perkataan yang sering aku sampaikan padanya.
“Mama pengen kelak kita kumpul lagi di syurga. Nggak cuma di dunia. Bisa jadi besok mama udah nggak ada disamping abang, nggak marahin abang lagi, nggak nyuruh abang sholat lagi. Dan kita hanya bisa bertemu di kehidupan selanjutnya, itupun kalau bisa bertemu.”
“Abang ingat kan janji Allah untuk anak-anak penghafal Al Qur’an?” tanyaku lagi.
“Diberikan mahkota kemuliaan bagi kedua orangtuanya” jawabnya lirih.
“Dan akan memberikan pertolongan kepada kedua orangtuanya kelak di akhirat” aku menambahkan.
“Abang mau kita bisa kumpul lagi di syurga nggak? Mau ketemu mama, ayah, dan adek-adek lagi nggak???” tanyaku sedikit menggodanya untuk menghilangkan sedihnya.
“Mau ma..”, jawabnya.
“Jadi abang harus apa?” tanyaku ingin dia mengulang jawabannya tadi.
“Abang harus jadi anak sholeh, jujur dan jadi penghafal Qur’an” jawabnya mantap sambil tersenyum.
“Alhamdulillah… Gak boleh bohong lagi ya nak.. Jadikan ini pelajaran berharga” kataku sambil mencubit kedua pipinya lalu menciumnya.
“Mama sayang abang.” bisikku.
“Abang sayang mama…” balasnya.

“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa”

[Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al Furqon: 74)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s