Menguatkan Cinta Saat LDM

Tak pernah terpikirkan olehku untuk menikah di usia yang relatif muda. Di saat pekerjaan yang aku idam-idamkan sejak dulu sudah ada di depan mata dan selangkah lagi aku dapat meraihnya.

Namun Allah mengingatkan dengan hadirnya sosok lelaki yang insyaAllah sholeh dan siap menikahiku dengan penuh tanggung jawab untuk membangun rumah tangga. Dengan pemikiran cukup panjang serta niat untuk meraih ridho Allah, aku menerima lamarannya dan segera menikah.

Awal kehidupan menikah kami lalui dengan penuh rasa sayang dan cinta layaknya pasangan baru. Tinggal di rumah kontrakan sederhana, aku menjalani dan menikmati peran sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari melakukan pekerjaan rumah sendiri sambil menunggu suami pulang dari kantor. Sesekali rasa bosan melanda karena merindukan hari-hari “bebas” ku sebelum menikah dan memiliki karier sebagai pekerja kantoran. Tapi Alhamdulillah suamiku selalu mengingatkan komitmen yang kami buat sehingga aku belajar ikhlas menjalani kehidupan saat itu.

Lima bulan setelah menikah, aku menerima surat panggilan untuk mulai bekerja di kantor di bawah naungan salah satu kementerian. Saat itu lah hidupku dan suami mulai berubah, yang awalnya menikmati 5 bulan selalu bersama setiap hari menjadi harus berpisah untuk ketemu hanya 3-4 hari dalam seminggu. Suami tidak pernah mempermasalahkan aku yang mulai bekerja di luar rumah, dengan ijin dari nya, kami mulai fase baru dalam kehidupan rumah tangga kami.

Awal bekerja, aku berusaha untuk menghadapi perjalanan dari rumah ke kantorku yang harus ditempuh dalam waktu 2 jam. Bangun pukul 4 pagi utk masak dan beres-beres rumah, pukul 6 aku harus sudah di angkot agar tidak terlambat sampai di kantor karena harus naik turun angkot dengan 3 rute. Capek?? Pasti.. Tapi insyaAllah dengan ikhlas aku berusaha untuk menikmati kondisi pada waktu itu.

Beberapa bulan melalui perjalanan selama 2 jam mulai terasa berat karena kehamilanku mulai membesar. Rasa capek cepat melanda jika duduk lama di angkot. Beberapa kali aku harus ijin tidak masuk kantor karena kecapekan. Saat itulah akhirnya aku dan suamiku memutuskan untuk menyewa kamar kos yang dekat dengan kantorku.

Alhamdulillah prosesnya tidak terlalu lama hingga aku memindahkan sebagian barangku di kamar kos saat itu. Yang agak terasa berat adalah menjalani hari-hari awal tanpa suami di sampingku. Mulai berpikir bagaimana makannya, bagaimana dia di rumah, bagaimana saat dia akan berangkat dan pulang kerja. Agak berlebihan mungkin, tapi itulah yang kurasakan di awal-awal masa LDR kami. Handphone pun mulai jadi salah satu kebutuhan utama untuk kami mengobrol dan bercanda seperti kami masih dalam satu atap yang sama.

Ketika rasa rindu datang, terutama karena suami yang ingin ngobrol dengan calon anak kami yang masih menyatu dengan tubuhku, ekspresi melankolis pun tidak dapat dihadang. Mau tidak mau, kami harus menegakkan kembali komitmen awal. Aku bekerja untuk membantu suami mencari nafkah halal, jika memang kami menyerah dengan kondisi saat itu, aku ikhlas untuk segera resign dari pekerjaanku. Karena memang tugas utama seorang istri adalah mendampingi suami dan aku siap dengan tugas itu sejak aku memutuskan menikah dulu.

Penyesuaian di awal terasa cukup berat, namun Alhamdulillah dengan komitmen dan komunikasi yang cukup intens kami dapat melalui hari-hari kami dengan cukup baik.

Suamiku semakin sering mengunjungi di kosku. Tidak harus menunggu hingga akhir minggu, 2-3 hari sekali dia datang sekedar untuk memastikan kondisiku dan kehamilanku. Hari-hari pun berlanjut hingga tiba aku pindah kerja ke perusahaan lain yang niat awalku adalah agar ilmu yang selama ini aku dapat di bangku kuliah dapat lebih aku terapkan di tempat yang lebih sesuai. Persetujuan pun aku dapatkan dari suamiku dengan harapan kami dapat segera kembali tinggal dalam satu atap.

Beberapa hari setelah pindah ke perusahaan baru, aku dan suamiku harus menghadapi kenyataan bahwa aku harus menerima penempatan di perkebunan yang lokasinya lebih jauh dari tempat kerja lama. Allah…. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku kembali ke tempat kerja lama, atau aku ambil risiko berjauhan sementara dengan suamiku lagi hingga jangka waktu yang aku sendiri tidak tahu berapa lama?

Kembali,, aku dan suami harus memutuskan pilihan untuk fase baru kehidupan kami. Dan kami memilih untuk menerima penempatanku di perusahaan baru. Saat mengambil keputusan itu, kami berpelukan untuk kembali saling menguatkan. Menguatkan hati, menjaga komitmen, menjaga diri dari segala hal yang dapat menjauhkan hati kami.

Awal di tempat baru, aku diberi keringanan oleh Allah. Seminggu setelah ke tempat itu, aku langsung meminta ijin cuti melahirkan anak pertama. Sampai sekarang aku dan suami masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin ada perusahaan yang menerima seseorang dalam kondisi hamil 7,5 bulan saat wawancara top management? Tapi…. Bukankah tidak ada yg tidak mungkin bagi Allah Azza wa Jalla?? Di satu sisi kami memandang sebagai berkah sekaligus cobaan untuk kehidupan kami sebagai suami istri dan calon anak kami.

Kebersamaan kembali dengan suami selama 2 bulan aku jalani dengan senang hati. Apalagi sudah hadir buah hati pertama kami tempat kami menggantungkan harapan dan doa agar Allah menjadikan anak kami salah satu pejuang agama-Nya. Baby blues setelah melahirkan pun terasa lebih ringan dengan adanya suami yang mendampingi.

Fabiayyi ala irobbikuma tukadzziban…

Hari-hari berlalu hingga tiba saat harus kembali menjalani pernikahan jarak jauh kami. Kali ini terasa lebih berat karena sudah ada si kecil yang harus terpisah dari ayahnya. Jarak tempuh ke tempatku bekerja sejauh 4-5 jam dari rumah membuat suamiku tidak akan bisa terlalu sering datang menjenguk kami. Lagi-lagi… sehari sebelum aku dan anakku diantar ke “rumah” baru kami, aku dan suamiku berpelukan untuk kembali saling menguatkan. Di usia anakku yang masih 33 hari, aku diantar keluargaku ke tempatku bekerja. Berat rasanya saat itu, namun tetap harus aku jalani dengan kuat, apalagi sudah ada anak yang bergantung padaku.

Sehari setelah kepulangan keluargaku, aku berusaha untuk menyesuaikan diri kembali di tempat baru. Statusku sebagai karyawan baru dan membawa bayi tidak menjadikanku lebih diistimewakan dengan karyawan lainnya. Malah aku harus dapat membuktikan bahwa statusku sebagai seorang ibu tidak akan mempengaruhi profesionalismeku dalam bekerja. Jauh dari suami pun membuatku harus lebih ekstra menjaga diri dan anakku dari segala hal tidak baik di sekitar kami.

Allah Maha Baik… Walaupun berada di lingkungan baru, dengan segala keterbatasan barang yang kami bawa dari rumah sebelumnya, banyak bantuan yang kami terima dari orang di sekitar kami. Kehidupan di daerah perkebunan ternyata relatif lebih “guyub” dan saling membantu, bahkan beberapa orang membuatku merasa memiliki keluarga baru.

Selepas bekerja dari kantor, aku masih memiliki banyak waktu untuk bermain dengan bayiku. Memandikan, mengajak jalan sore, dan melihat anak-anak bermain bola di lapangan menjadi rutinitas kami setiap hari. Setidaknya hal itu dapat sedikit menepis rasa sepi karena jauh dari suami. Malah kadang membuatku berpikir kesepian yang dirasakan oleh suami pasti lebih dari yang aku rasa sendiri. Itu pasti, karena sepi yang aku rasakan dapat dihibur oleh tawa dan senyum bayi kecilku. Sedangkan suamiku melewati hari-hari sepinya sendiri dengan menahan rindu padaku dan anak kami.

Jarak yang cukup jauh dan keterbatasan ekonomi membuat suamiku hanya dapat menjenguk kami dua minggu sekali. Datang di hari jumat malam dan pulang di hari minggu siang. Hari-hari menunggu kedatangan suami pun menjadi hari yang dinanti. Entah kenapa saat tahu suami akan segera datang, hati ini terasa berdebar. Istilahnya seperti merindukan kekasih yang lama tak kunjung datang. Ingin menyiapkan makanan kesukaannya dan merasakan pelukan hangatnya. Mirip sekali dengan orang yang sedang jatuh cinta. Ahhh… inilah secuil nikmat dalam hubungan jarak jauh kami, mungkin diantara banyak nikmat Allah yang tidak kami sadari.

Dalam tiga hari itu, aku sering berharap waktu menjadi lebih lambat dari biasanya agar suamiku dapat tinggal lebih lama denganku dan anak kami. Melihat bayi kecil itu bermain dengan ayahnya yang merupakan momen langka tiga hari dalam dua minggu, membuatku merasa memiliki tambahan kekuatan untuk menjalani kondisi kami saat itu.

Ada juga saat dimana aku merasa bersalah karena membuat anakku dan ayahnya berpisah dan hanya sesekali bertemu. Rasa bersalah itu pun bisa menimbulkan emosi antara aku dan suamiku. Emosi yang muncul karena rasa rindu yang tidak terbendung dan disisipi oleh syetan yang ingin mengganggu hubungan kami. Konflik pun datang di saat kami seharusnya menikmati kebersamaan yang jarang kami rasakan.

Alhamdulillah tiap konflik terjadi, Allah serasa tidak ingin kami jauh dari-Nya. Kami dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan saling mencurahkan perasaan masing-masing, malah hubungan kami terasa menjadi lebih dekat lagi seperti saat baru menikah. Mungkin ini salah satu wujud dari janji Allah, jika kita menyertakan Allah dalam tiap langkah dan urusan kita, maka Allah akan selalu membantu kita dengan cara-Nya.

Tepat di sembilan bulan usia anak kami, akhirnya saat yang dinanti-nanti tiba. Pengumuman mutasi karyawan baru yang seangkatan denganku untuk pindah ke lokasi perkebunan lain pun datang. Harapan untuk dapat ditempatkan di kantor pusat agar dekat dengan suami muncul seiring dengan kabar bahwa kemampuan kerjaku dan beberapa temanku sedang sangat dibutuhkan disana.

Surat mutasi sudah banyak beredar di teman-temanku. Dengan rasa sedikit kecewa, aku harus menerima kenyataan bahwa aku belum bisa pindah ke kantor pusat karena masa orientasi yang aku jalani dinilai belum cukup memenuhi karena sempat menjalani cuti selama hampir 2 bulan di awal aku masuk menjadi karyawan. Ternyata aku juga tidak sendiri, ada 10 orang temanku yang mengalami hal yang sama. Mungkin bedanya adalah harapan mereka untuk bisa ke kantor pusat tidak sebesar harapanku.

Kecewa sedikit terobati ketika beberapa hari setelahnya surat mutasi juga aku terima, walaupun tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Setidaknya pindah ke tempat yang jaraknya lebih dekat dengan suamiku dibandingkan tempat awal penempatanku. Yang awalnya bisa 4-5 jam, pindah ke daerah yang jaraknya 2-3 jam perjalanan dari rumahku dan masih memungkinkan untuk ditempuh dengan menggunakan sepeda motor.

Babak baru pun kami mulai dalam LDR kami. Selangkah lebih dekat walaupun masih dengan keterbatasan ekonomi. Tetap perlu proses penyesuaian dengan lingkungan baru lagi. Anak kami mulai belajar berjalan, mulai mengerti keadaan sekitar, mulai mengerti dengan kehadiran ayahnya, dan semakin butuh sosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Untuk kesekian kali, Allah Maha Baik. Kami dipertemukan dengan orang-orang baru yang memperlakukan kami sebagai keluarga. Padahal kami belum saling mengenal sebelumnya.

Jauh dari keluarga kandung mengajarkanku untuk lebih fleksibel dalam berkomunikasi dan sosialisasi. Tetangga baru pun seolah-olah menjadi kerabat lama bagi kami. Saling berbagi makanan dan saling membantu saat mengalami kesulitan menjadi penghibur hari-hari kami walaupun jauh dari suami.

Jarak yang lebih dekat membuat suamiku lebih sering menjenguk kami. Aku yang tidak pernah membayangkan dapat mengendarai sepeda motor dalam waktu 2-3 jam perjalanan pun dibuat tersentuh oleh seorang suami dan ayah yang rela melakukan perjalanan tersebut. MasyaAllah… satu lagi nikmat LDR yang aku rasakan. Dapat melihat betapa suamiku sangat mencintaiku dan anaknya dengan caranya sendiri.

Perannya sebagai ayah pun semakin dimaksimalkan. Tiap kedatangannya, anak kami langsung menghampiri dan minta dipeluk serta dibawa jalan-jalan oleh sang ayah. Lelah yang dirasa selama perjalanan pun rela ditepis sementara waktu, demi menghibur anak kesayangannya. Satu hal yang membuat aku jatuh cinta pada suamiku adalah bagaimana cara dia memperlakukan anak kecil sejak aku mengenalnya. Dan cara itu pula yang dia terapkan ke anak kami.

Pernah suatu malam di bulan Ramadhan anak kami demam tinggi. Dan aku tidak tahu harus meminta tolong ke siapa lagi selain tetangga belakang rumahku. Sempat menelepon temanku yang berprofesi sebagai dokter untuk mendapatkan kemungkinan diagnosa penyakit yang sedang dialami anakku. Mencoba untuk mengingat kembali apa yang aku pelajari tentang demam pada anak, apa yang harus dilakukan, kapan harus ke dokter, dan hal lainnya. Aku yang awalnya tidak ingin membuat suamiku khawatir, mau tidak mau harus memberitahu kalau anak kami demam tinggi dan perlu pemeriksaan dokter. Dia yang aku ingat masih lelah karena baru menjenguk kami di hari sebelumnya, tiba-tiba datang tengah malam untuk melihat langsung kondisi anak kami. Allah… betapa baik laki-laki ini. Aku yang awalnya sendiri, merasa mendapat satu kekuatan yang memberikanku semangat lagi.

Lima bulan di tempat tersebut, aku mendapat surat mutasi ke kantor pusat. Rasa bahagia dan haru mennyelinap di lubuk hati yang selama ini terasa senyap. Akhirnya Allah mengabulkann doaku dan suamiku untuk kembali bersama dalam satu atap. LDR kami kali ini berakhir dengan meninggalkan kesan dan pengalaman yang membuat kami semakin mencintai satu sama lain. Semakin menghargai waktu dan kebersamaan kami. Dan untuk waktu beberapa lama kami ingin menikmati kebersamaan kami tanpa menjalani LDR lagi.

**Karena pernikahan akan terasa kurang lengkap tanpa kebersamaan keluarga dalam satu atap. Dan LDR membuat kami sadar betapa berharganya saat-saat kami dapat saling menatap.**

Medan
05 Januari 2019
02.31 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s