Berdamai dengan Hati

Aku berjalan dengan langkah setengah berani melalui lorong itu. Kuajak temanku sebagai pengalih perhatian jika rasa takutku datang menghampiri. Aku seperti anak kecil yang takut bertemu dengan hantu. Hmm,, tidak. Itu lebih dari hantu.
Aku takut bertemu dengan sisi gelapku, mengingat rasa kecewa ku saat terakhir kali berada di tempat itu. Seakan aku flashback ke masa lalu yang lukanya masih belum hilang hingga detik ini.

Pagi ini, ada pesan masuk ke hp ku melalui whatsapp.
“Aku tau kakak mungkin ga mau, ada tim dari bagian lain yang ingin melakukan review hasil report SAP kita. Mungkin kita bisa samain persepsi sekalian.”

Aku ragu menjawab pesan itu. Namun karena aku memang ada rencana berdiskusi dengan mereka tentang masalah report, aku dengan pelan-pelan menjawab, “Pas kali, kakak memang mau ketemu lo untuk nanya-nanya mapping report. Tapi… bisa di ruang rapat biasa aja nggak? Biar nggak usah ke ruangan lo itu?”

Dia yang sudah tau sejarah kelamku di tempatnya, menjawab dengan ejekan “Wkwkwk….”
Ahhh,, dasar anak itu. Dia memang teman kerjaku, tapi dia juga adik almamaterku di SMA. Jadi sebagai alumni satu almamater, secara personal dan pekerjaan kami tidak ada masalah. Aku memahami tuntutan kerjanya disana, yang dulu selama bertahun-tahun aku lakoni sebelum peristiwa mengecewakan itu terjadi. Dia pun mencoba memahami apa yang aku rasakan dengan tidak mengomentari apa yang aku lakukan.

Setengah jam kemudian, dia mengirim pesan lagi.
“Kak, kami baru mulai ya.”
“Oke, sebentar lagi kakak kesana, tapi kakak mo dhuha dulu.” jawabku di whatsapp juga.

Segera kuambil wudhu dan mengerjakan dhuha ku. Salah satu doaku adalah agar aku dikuatkan untuk datang dan melaksanakan tujuanku ke tempat itu.
Selesai berdoa, aku mengajak temanku dan mengambil laptop dan barang yang kuperlukan. Dengan menarik nafas panjang aku melangkahkan kakiku dan mengobrol ringan dengan temanku untuk menghilangkan kegugupanku.

Lorong itu terasa panjang sekali pagi ini, sepanjang tarikan nafas yang mengiringi langkahku. Adrenalinku dilepaskan cukup deras, tapi otakku langsung melawan agar aku tampak normal di hadapan orang-orang.
Trauma masa lalu memang cukup punya bagian dalam otak manusia. Selalu menghadirkan ketakutan yang dapat mensabotase diri, pikiran, dan langkah kita. Dada pun terasa sesak saat otak bekerja seperti kaset yang di-rewind otomatis. Membuat aku merasa skeptis untuk mendekati hal-hal yang berkaitan dengan momen di kala itu.

Ya Rabb,, kuatkan langkahku, kuatkan hatiku. Melihat ruangan itu, bangku itu, meja itu, komputer itu pintu itu,, membuatku ingat momen lima tahun yang dulu aku jalani. Walaupun berat, aku berusaha menikmati tiap kesibukan dan tuntutan laporan dari atasanku. Lima belas jam hampir setiap hari aku habiskan di tempat itu, hingga aku pernah lupa ada kewajiban lain menunggu di rumahku.

Akhirnya aku sampai di depan pintu masuk ruangan. Membuatku menarik nafas lebih panjang agar lebih bisa menata perasaan dan sikap di hadapan semua orang.
Aku serasa masuk ke dalam lorong dengan semua mata tertuju pada sosokku. Sosok yang mungkin dicap melarikan diri dari tempat itu satu setengah tahun yang lalu.

Aku berusaha bersikap normal, walaupun hatiku merasa abnormal. Kusapa hangat teman-teman (lama) ku, aku langsung mendatangi Romi, adik kelasku itu.
Kubuka laptopku, langsung kucari file yang ingin aku diskusikan isi di dalamnya.
“Rom, ini dapatnya dari mana ya? Kok angkanya beda dengan yang kakak liat di sistem?”
“Ooo,, ini memang ada mapping nya yang aku tambahin kak. Coba kakak liat di file kertas kerjanya.”

Aku mulai melupakan ketakutan dan rasa gugupku. Fokus ke laporan membuatku terhanyut dalam lautan angka dan menekan titik saraf takut trauma dalam otakku hingga tak terasa waktupun berlalu dan diskusiku berakhir.

Ternyata tidak semua ketakutanku terbukti. Aku terlalu pede untuk merasa diperhatikan dan merasa jadi bahan pembicaraan orang-orang. Aku sedikit berhasil keluar dari mental korban yang selama ini menggelayuti pikiranku. See… ketika aku berdamai dengan hati dan dugaan yang belum tentu terealisasi, aku akan dengan mudah fokus pada tujuan yang ingin aku lakukan.
Walaupun hingga saat aku pulang, bahkan aku sama sekali tak kuasa mengalihkan pandanganku ke bekas mejaku dulu. Karena ternyata aku masih butuh waktu untuk mendamaikan hatiku lebih baik lagi.

Medan, 28 Maret 2019
05.48 pm








Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s