Bab I : 18 Hektar

Kutatap matahari senja dari depan rumah kos ku. Terdiam, menarik nafas panjang berusaha untuk menikmati indahnya alam. Duduk di tepi rawa, di atas pondasi bangunan rumah yang sepertinya masih tersendat pengerjaannya. Tak tahu mengapa sejak aku tinggal di rumah itu setahun yang lalu, kondisinya sudah begitu. Malah aku bersyukur, batu pondasi itu hingga kini masih menjadi teman setiaku. Memandang langit sore, belajar menjelang ujian, melepaskan lelah dan emosi yang datang silih berganti, selama aku menjalani masa putih abu-abu ku.

Sore ini, aku melihat beberapa kerbau yang sedang ada di rawa. Memakan rumput yang sudah tumbuh menjulang, bergerak pelan dari tepi jalan aspal ke tengah rawa. Tidak lama kawanan bangau berwarna putih datang. Sebagian menginjakkan kakinya di rawa mencari ikan kecil. Sebagian lagi bertengger di atas badan kerbau yang juga sedang mencari makan atau bahkan hanya menyegarkan badan dengan merendam kakinya dalam genangan air.

Pemandangan yang mengingatkanku akan pelajaran biologi tentang simbiosis mutualisme. Bangau untung mendapatkan kutu dari badan kerbau. Begitupun kerbau untung karena kutu di badannya berkurang, bahkan hilang dimakan bangau. Betapa Allah telah membimbing ciptaan-Nya untuk melakukan perilaku tertentu, naluri untuk bekerjasama dengan makhluk lainnya.

Tersenyum. Tak akan kutemukan pemandangan itu di kota asalku. Tempat ini mungkin salah satu pelarian agar aku bisa belajar mandiri, setidaknya dari sikap overprotektif orangtua ku sampai aku lulus Sekolah Menengah Pertama dulu. Bukan aku tak sayang mereka, bukan pula aku tak paham cara mereka menyayangiku. Aku hanya perlu tantangan lain dalam hidupku, untuk menjawab kebutuhan ego masa remajaku. Untuk membuktikan kalau aku bisa mandiri, dan aku bisa bertanggung jawab atas pilihanku.

Tua sekali pemikiranku dulu. Aku malah mencemplungkan diri ke hidup yang sulit. Jauh dari keluarga, uang terbatas, mencuci dan menyetrika baju sendiri, tinggal di rumah kos yang kotor, masuk ke sekolah yang penuh dengan persaingan pelajar pintar dari berbagai daerah. Tapi kembali lagi,, ini pilihanku. Aku nggak mau malu di hadapan kedua orang tuaku dan tetangga-tetangga ku. Aku harus bisa membuktikan kalau aku bisa sukses hidup mandiri di tempat ini, di sekolah ini. Ego mulai menguasaiku lagi.

Hmmm,,, bisa jadi pilihanku ini juga efek aku tak lulus di sekolah bergengsi yang terletak di kaki Gunung Tidar dulu. Aku ingin sekali masuk kesana, dengan harapan bisa keluar dari pulau Sumatera dan tinggal di Pulau Jawa. Bahkan aku sudah lulus di tes tahap pertama. Dari tes itu juga, aku baru tau kalau aku tak pernah punya akte kelahiran. Dan memaksa orangtuaku untuk segera mengurusnya. Ahhh.. perjuangan sekali hanya untuk mendaftar SMA.

Tak lulus di tahap kedua, aku mendengar informasi SMA yang mirip pola pendidikannya dengan SMA di kaki Gunung Tidar itu. Dan melalui serangkaian tes, aku lulus di kategori unggulan C. Tanpa beasiswa, semua berbayar. Beda dengan siswa yang lulus di unggulan A, yang konon katanya gratis asrama, buku pelajaran, seragam, dan uang sekolah tentunya. Ahhh,, beruntung sekali mereka, dua teman SMP ku diantaranya. Begitu pun, aku cukup berbangga akhirnya ada jalan untuk jauh dari orangtua.

Masuk di angkatan VIII, tahun 2001. Sepertinya masih generasi millenial. Nilai ulangan pertamaku pun cukup menjadi kenangan tak terlupakan. Nilai fisika terjelek selama aku sekolah, tapi ternyata untuk ukuran kelasku, nilaiku termasuk salah satu yang tertinggi. Tiga puluh tujuh… hmm,,, nggak jelek-jelek amat lah. Dibandingkan temanku yang cuma mendapat satu koma-an. Shock therapy untuk kami semua yang di sekolah sebelumnya selalu memperoleh nilai tinggi.

Tahun ini adalah tahun ketiga aku di sekolah itu. Sekolah yang katanya memiliki luas 18 hektar. Dibangun tahun 90-an. Bersebelahan dengan bukit yang masih tampak seperti hutan. Di dalamnya ada gedung kelas berlantai dua memanjang, gedung untuk lab, perpustakaan dan ruang guru, gedung asrama, lapangan upacara, lapangan apel kecil, lapangan sepakbola dengan stadion kecil di dekatnya, gedung olahraga, dan kolam renang. Semua pasti percaya kalo luasnya 18 hektar. Untuk menuju ke kelasnya saja, aku harus berjalan sepanjang kurang lebih 500 meter. Jangan harap terlambat tanpa ada hukuman. Saking takutnya dihukum, aku rela lari ngos-ngosan. Jika tidak, siap-siap saja disuruh push up, sit up atau kurve di lapangan. Pasti cukup memalukan dan membuat kita jera utk kembali melakukan kesalahan.

Kututup mataku. Kuseruput perlahan teh dalam gelas di tanganku. Sudah kebiasaanku untuk sendiri selama beberapa waktu duduk di tepi rawa ini. Mengingat kembali masa-masa awalku datang ke kota tepi pantai ini. Teringat hymne yang kami nyanyikan hampir tiap senin pagi.

di barat samudra Hindia

di timur bukit barisan

di sini Matauli SMU

kota pandan Sibolga permai

tempat persemaian ilmu ba

..gi putra remaja bangsa

kami ditempa jiwa dan raga

tunas pejuang masa depan…

terimakasih para pembina, guru dan insan yang berperan…

kami bersyukur pada Mu..

Tuhan Yang Maha Esa…

Ya,, kami memang para pejuang. Pejuang remaja yang hidup jauh dari orang tua. Di saat kami masih bisa bermanja-manja. Tapi kami dorong tubuh dan hati kami untuk berperang. Melawan sikap anak-anak kami untuk membuktikan kalau kami patut sukses di masa depan.

Medan, 09 April 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s