Tips Memilih Pemimpin

Sepekan lagi pesta demokrasi tiba. Banyak gagasan dan janji yang berhamburan, dari calon pemimpin dan caleg yang ikut berperan.
Mengingat tak punya basic Quran & Hadist, boleh lah mencoba memberi saran melalui falsafah yang sama-sama dimengerti. Pancasila. Berikut tips memilih dari pribadi yang lemah ilmu (silahkan dibaca sambil lalu, atau jadi alarm dini, tak perlu caci maki) :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
    Karena penulisnya Islam, maka yang paling dipahami tentu cara islami. Untuk pemimpin, pilihlah yang paling dekat dengan para ulama dan kiai. Umara dan ulama akan jadi kekuatan yang solid. Ingat, pemimpin bukan cuma soleh pribadi, tapi juga memikirkan masalah keumatan, dan yang paling memahami, tentu ulama dan kiai.
    Untuk caleg, pilihlah yang punya tendensi untuk berpihak pada agama yang diyakini. Minimal, gak sampai menjadi musuh atau melawan agama sendiri.
    Contoh : urusan kawin lebih dari sekali, meskipun penulis gak sanggup karena tau diri. Kalau tak mampu ambil hikmah poligami, jangan pakai logika sana sini, karena itu aturan kalam ilahi, bukan fiktif yang dicari cari.
    Atau, jangan sampai ada yang melarang bikhuni, untuk hidup menyendiri, karena itu mereka percayai, harus dijunjung dan dihormati.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
    Ingat, basis kemanusiaan yang divari itu ada keadilannya, ada adabnya. So, sebagai bagian dari Pro Justicia (demi keadilan)nya, tentu seorang pemimpin harus terbukti secara sah dan meyakinkan tidak merusak makna kemanusiaan di depan pengadilan. Kalau tak ada bukti sah gimana? Cara paling beradab adalah dengan melihat pandangan jiran tetangganya, keluarganya, maupun masyarakat sekitarnya. Silahkan masing-masing menilai, tanpa harus saling melecehkan, karena itu wujud manusia beradab paling universal.
    Untuk caleg, lihat bagaimana mereka selama ini berinteraksi, apakah selama ini sudah memanusiakan, atau hanya saat kampanye baru ingat memberi.
  3. Persatuan Indonesia
    Pilihlah pemimpin yang menyatukan, bukan kebanyakan menjatuhkan. Lihat juga sekelilingnya, apakah sering mengingatkan, bukan malah menyepelekan.
    Untuk caleg, carilah mereka yang mau mendengar nasihat, karena kalau sudah menang sendiri, cuma ke-aku-an yang akan jadi aspirasi, bukan persatuan lagi.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
    Memimpin dengan segala hikmah dan kebijaksanaan berarti fokus pada peningkatan karakter bangsa. Pembangunan bukan cuma infrastruktur, lebih penting lagi nilai-nilai luhur. Pilihlah pemimpin yang mengedepankan kemampuan manajemen musyawarah, yang mampu mendengar tanpa harus didikte, mampu memerintah tanpa ralat dari yang diperintah. Pemimpin yang didengar dan ditaati. Sami’na Wa atho’na
    Untuk caleg, pilihlah caleg dengan kemampuan debat mumpuni, tanpa ada kesan menggurui. Yang mampu meraih simpati, bukan merasa menang sendiri.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
    Negara kita luas, maka pembangunan harus bisa menjangkau hingga batas terluar. Pun begitu, pemimpin juga harus berpihak pada rakyat, bukan dengan menggilas, tapi dengan kepedulian sosial.
    Untuk caleg, pilihlah caleg yang memahami, ketika dia duduk nanti, bukan lagi atas nama partai, bukan pula dapil atau kelompok-kelompok aspirasi. Dia harus menjadi corong kebenaran yang hakiki.

Selamat menggunakan hak pilih.
Sekali lagi, tak perlu caci maki. Semua orang punya sudut pandang pribadi. Jadi silahkan tuliskan tips masing-masing maupun opini.
Semoga Allah selalui meridhoi..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s