Bab II : Asrama Merah Jambu vs Perumahan Guru

Masuk di sekolah itu, ada beberapa pilihan tempat tinggal yang tersedia. Banyak orangtua yang memilih asrama sebagai tempat menitip anaknya. Namun tak sedikit pula yang memilih rumah-rumah guru ataupun kos-kosan yang letaknya tak jauh dari sekolah. Pilihan itu tentunya telah dipertimbangkan dengan baik oleh mereka.

Siswa unggulan A wajib tinggal di asrama. Berbeda dengan siswa unggulan B dan C yang bisa memilih tinggal di luar yang mungkin lebih sederhana. Dan lebih ekonomis tentunya. Karena tidak semua siswa dari luar daerah yang ekonomi keluarganya menengah ke atas. Menyekolahkan anaknya di sini dengan harapan dapat sukses dan mengangkat perekonomian keluarga di masa depan, mungkin menjadi salah satu tujuan salah satu dari mereka.

Suatu pagi saat aku baru masuk kelas, ada pemandangan yang menurutku biasa untuk anak-anak yang tinggal di asrama. Ngantuk, seolah tidak tidur semalam suntuk.

“Pagi Elena. Kau kenapa?” aku mulai menyapa teman yang duduk di sebelahku.

Kelopak matanya hampir tertutup separuh, raut wajahnya menampakkan lelah karena kurang tidur.

“Tadi malam aku dipanggil Kak Mega ke kamarnya.”

“Lagi? Ini sudah kesekian kali dia menyuruhmu ke kamarnya saat malam. Apalagi yang disuruhnya kali ini? Push up? Sit up? Atau memberi perintah mengangkat air untuknya tadi pagi?” tanyaku memberondong.

“Nggak Ucci… Kali ini beda. Dia butuh teman cerita. Dan dia percaya aku bisa jadi pendengar yang baik untuknya.” jawab Elena.

“Cerita apa?” aku penasaran dibuatnya.

“Kak Raja.”

Ingatanku langsung tertuju pada sosok cowok ganteng, pintar, berhidung mancung, asal Medan, juara olimpiade Matematika, dan yang pasti dia anak asrama. Aku tak terlalu mengenalnya, hanya saja hampir tiap upacara, dia selalu berdiri di barisan paling depan siswa kelas 3. Kakak kelas yang terkenal cool, beberapa cewek sering tampak kikuk berhadapan dengannya.

Kak Mega yang dikenal cerewet, salah satu kakak kelas yang cukup ditakuti saat awal masuk di sekolah ini. Aku kira dengan sikapnya yang begitu, tak akan ada cowok yang berani mendekatinya dengan niat diluar pertemanan. Cerita Elena pagi ini benar-benar membuat pikiranku melayang. Apa yang terjadi dengan Kak Mega? Ada apa dengan Kak Raja? Rasa ingin tahu anak remaja mengusik di kepala.

Saat aku ingin bertanya lebih lanjut, Ucok datang dan memberi kode bahwa Miss Roma sedang di jalan menuju ke kelas kami. Kubatalkan niatku untuk bertanya lebih lanjut ke Elena.

“Nanti kita teruskan ya. Istirahat pertama kita ke kantin, beli martabak mini dan tahu baso. Aku pengen kali makan itu hari ini.” Ucapku setengah berbisik ke Elena lalu memperbaiki posisi dudukku saat kulihat sosok guru Bahasa Inggrisku.

Tahun pertama, di jam-jam pagi pelajaran, keliatan sekali bedanya anak yang tinggal di asrama dan anak yang tinggal di perumahan. Di asrama bercat merah jambu dan atap merah marun, aktivitas senior dan junior sebagai masa penyesuaian masih dilakukan bahkan hingga tengah malam. Tujuan utamanya tidak lain agar siswa baru dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan. Walaupun banyak haru biru, tangis, tawa, dan senyum yang kelak akan jadi kenangan. Pada akhirnya, kedekatan warga asrama akan lebih kelihatan. Mungkin lebih dari siswa lain yang tinggal di luar.

Siswa di luar asrama kebanyakan memilih tinggal di perumahan guru. Blok B dan C, begitu kami biasa menyebutnya. Aku jarang main ke blok itu. Sungkan, nggak enak ketemu langsung dengan guru di luar sekolah. Padahal teman-temanku adalah anak kos dari guru-guruku yang tinggal di blok itu. Satu rumah bisa menampung empat sampai enam anak. Kenapa di rumah guru, alasannya tidak lain karena orangtua mereka menganggap anak mereka akan lebih gampang dikontrol dan diawasi oleh guru sendiri. Sedangkan aku lebih memilih tinggal di salah satu rumah penduduk dekat sekolah, walaupun dengan kondisi seadanya. Aku lebih suka mengatur hidupku sendiri. Ego remajaku menuntutku agar tidak terlalu diatur orang lain.

Tahun pertama dulu, seminggu sekali aku datang ke blok C dengan tujuan. Keluar rumah dengan membawa uang seadanya, lalu masuk ke wartel yang kadang sudah dipenuhi dengan siswa lain yang sama-sama ingin menelepon orangtua masing-masing.

“Assalamu’alaykum. Ma, mama sehat? Kakak baik-baik aja. Maaf udah seminggu nggak ada nelpon mama.” sapaku menelpon mama yang senang sekali mendengar suara anaknya.

“Wa’alaykumussalam. Gak apa-apa. Mama juga nggak nelpon kakak. Kek mana sekolah mu? Makan mu? Uang jajanmu masih ada? Besok mama transfer ya.” Jawab mamaku disambung dengan berbagai cerita lainnya.

Aku berbicara sekitar hampir setengah jam. Itu pun sudah deg-degan melihat nominal tertera yang harus kubayar di alat yang tertempel di dinding dan tersambung ke telepon yang aku gunakan. Rindu ke mama cukup terobati, ditambah bonus akan dapat kiriman uang lagi. Alhamdulillah.. Kebetulan ini udah hampir akhir bulan dan memang uangku udah pas-pasan.

Keluar dari wartel, aku melihat teman-temanku yang masih bersenda gurau di bangku depan. Sambil bermain gitar, mencoba untuk melepaskan penat dan masalah masing-masing sebelum masuk ke kamar dan esok menjalani aktivitas sekolah seperti biasa.

“Ucci…. Baru nelpon mamak ya?? Jangan nangis gitu lah…” ejek Andi teman sekelasku yang berasal dari Padang Sidempuan.

“Apa??? Mau aku tonjok? Masuk sana, nanti dipanggil bapak lho.”

“Hahaha.. sebentar lagi. Masih cerita-cerita lagi kami disini.” tukasnya menjawabku.

“Aku pulang dulu ya. Udah malam, takut nanti lewat jalan dekat rawa-rawa itu. Diculik pulak aku nanti.”

“Hati-hati ya. Siapa yang mau culik kau. Rugi orang tu.. Apa perlu kami antar?”

“Nggak… Aman itu.. Assalamu’alaykum.” tutupku mengakhiri pembicaraan.

Begitulah anak di luar asrama. Walaupun tidak seakrab mereka yang di asrama, tapi sebagai sesama anak perantauan, kami saling membantu jika ada yang kesusahan. Tak perlu harus dipanggil hingga tengah malam. Bapak dan ibu kos yang malah marah kalau itu kejadian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s